Rabu, 02 Mei 2012

Pengaruh kebudayaan luar bagi remaja

kebudayaan merupakan ciri dari suatu bangsa,kita bisa mengenal suatu bangsa karna kebudayaanya seperti kebudayaan luar atau yang kita kenal kebudayaan barat.
banyak cara yang bisa kita lakukan untuk mengenalkan suatu kebudayaan,contoh ya dengan melalui film,
film adalah suatu tempat yang berpungsi untuk mewujudkan komunikasi yang mencangkup berbagai fase dalam kehidupan filem adalah media untuk membentuk watak (the effect of muvie on attitude) dan kepribadian maka perlu di tinjausubtasi film yang terkandung di dalamnya.
ada banyak gaya atau kebudayaan luar yang di jadikan panutan atou  gaya dalam kehidupanya sehari-hari yang di peragakan oleh para remaja yang di kenalkan oleh para pemain film(actor and actris) lewat filmnya.
seperti fashion dan etika.
fashion adalah salah satu yang menonjol di kalangan remaja,banyak para remaja yang mengikuti gaya barat diantaranya seperti yang kalian tau yaitu  gaya emo harajuku atau punk,kalo diantara kalian ada  yang ga tau berati kalian kuper (kurang pergaulan) ya atau gaptek, di negara kita indonesia kita bisa gampang menemui remaja yang bergaya ala barat ya… ada yang pantes,walaupun adajuga yang ga cocok dengan style ya si seperti si A pengen gaya ala barat eh malah jadi ga jelas alias jadi jamet atau MMJ gitu.
Knpahbanyak orang lebih tertarik terhadap kebudayaan luar, bukan kebudayaan sendiri. Sekarang ini banyak negara indonesia lebih tertarik memakai baju yang di pragakan oleh artis luar, yang menurut kita kren cool wow dar ipada memakai batik.kebaya dll yang menurut saya tidak kalah kerenya dengan fashion barat.

dari segi etika seperti yang kita kenal kebudayaan barat merupakan kebudayaan yang menganut kebebasan.
dalam segi pergaulan dalam pertemanan atu berpacaran,banyak film film luar yang mengenalkan tetang kebebasan dari kebudayaan luar seperti film AP,SZ dll…………
banyak dari kalangan muda yang mengikuti  tingkah prilaku kebudayaan luar yang di peragakan oleh actor dan actrisnya,diantaranya seperti sex bebas,ciuman berpelukan di tempat umum dll…
akibat kebudayaan luar pada jaman sekarang para remaja yang berpacaran saja sudah brani bermersaan bahkan, sampei berpelukan dan bercium di tempat umum tanpa memperdulikan adat atu etika yang sudah di ajarkan sejak kita duduk di bangku sekolah dasar, sungguh mempri hatinkan.
banyak yang berhubungan sex bebas sehingga kebobolan dan membuat para orang tua kecewa terhadap anak-anak nya yang tida bisa mejaga nama baik orangtua.
seperti yang saya liat dari kebayakan orang bayak para remaja yang mengambil enaknya saja tanpa memperdulikan resiko dari perbuatan yang mereka lakukan.ckckckck……
semakin majunya jaman berkembangya teknologi kita tida bisa mencegah masuknya kebudayaan luar untuk masuk ke negara yang tercinta Indonesi.semuaitu harus kembali ke pemahaman kita para remaja yang mejadi pewaris bangsa ini.banyak kebudayaan kita yang kita tlantarkan dan kita tida perdulikan.
sehingga memancing pihak luar untuk mengambil kebudayaan kita.contoh seperti reok batik dll….
disaat  kebudayaan kita di ambil oleh pihak luar, kenapa kita baru  memberontak dan baru sekarang kita memperhatikan kebudayaan negri kita. Knapah kita bisa seperti  itu karna dalam diri kita sudah membanggakan kebudayaan barat. Dari awal saja kita sudah salah, karna siapa lagi kalau bukan kita yang menghargai budaya kita sendiri..
Bukankah kita lebih tertarik terhadap kebudayaan luar lebih tertarik memakai baju yang di pragakan oleh artis luar yang menurut kita kren cool wow daripada memakai batik.kebaya dll…………..

 SUKU DAYAK KALIMANTAN

Dayak adalah sebagai penduduk asli yang mendiami pulau Kalimantan,Saya telah mengunjungi seluruh pulau Kalimantan dari Kalimantan barat, tengah, selatan dan timur, dan saya menemukan suku yang unik dan menawan, baik bahasa dengan dialek dayak yang ratusan jumlahnya dan pakaian dayak yang unik serta kebersamaan antar sesama. Saya pernah mengunjungi desa Date dan dusun Indiyak yang sangat berada di pedalaman tidak ada dipeta, berjalan kaki sampai 16 kilometer.
Saya telah bertemu dengan beberapa kepala suku Dayak di Kalimantan barat mereka sangat ramah dan menyatu dengan alam, mereka sangat bersahabat tetapi jangan coba sakiti hatinya mereka sangat menyatu dengan alam, mereka memakai kekuatan spiritual yang melampaui akal jasmani. Mereka memiliki panglima di tiap daerah, seperti panglima angin, panglima landak di daerah Kalimantan barat tepatnya kota ngabang. Juga ada panglima burung, mereka mewakili setiap kabupaten dan provinsi.
Saya pernah mewawancarai dayak berdialek Ahe ‘ bagaimana berkata “mencari sesuatu di hutan, bahasa dayaknya “nganggok a kayu dang utan”. Berbeda dengan dayak berdialek kedayan ,” Ampus Ka mane kau? Maka jawaban yang di jawab : “Aku Ampus ka daya yang berarti “ pergi ke mana kamu? Jawabannya “ saya pergi ke hulu”. Lain lagi dengan bahasa Dayak Bariton gabungan jawa dan bahasa malay.
Di daerah Dayak rumpun Sarawak Malaysia Apokayan (Kayan, Kenyah dan Bahau) sering disebut “Ulu” juga merupakan pe-melayu-an dari kata “Apokayan” itu sendiri. Sementara itu, masyarakat Dayak Kendayan setelah kedatangan Islam oleh orang luar juga sering disebut “hulu” dan diterjemahkan ke dalam mereka sendiri dengan kata “Daya”. Jadi jelas bahwa Dayak adalah istilah kolektif untuk masyarakat Dayak dari beragam budaya dan bahasa, yang hidupnya dekat dengan sungai (Sungai Budaya), hal ini karena setelah kedatangan Islam hampir semua permukiman masyarakat adat Kalimantan , yang masih asli berbudaya (Dayak) tidak banyak di pantai laut lagi (meskipun di beberapa daerah masih ada di pantai laut). Orang asing menyebut Kalimantan sebagai Borneo.

Terancam Punah?

Sebuah media internet (Media Indonesia.com) mengangkat berita budaya (oleh Surya Sriyanti) dengan judul Kebudayaan Suku Dayak yang terancam punah. Dan hal ini dibenarkan oleh Presiden Masyarakat Adat Dayak Nasional (MADN) Agustin Teras Narang yang mengungkapkan hal itu dalam pembukaan Rapimnas MADN di Palangkaraya, Rabu(26/5).

----------
Bukan main! Jika fakta yang diberitakan tersebut benar, mungkin sudah bukan saatnya lagi kita menuntut pemerintah untuk melakukan tindakan. Dan sebuah ide tentang gerakan pelestarian mungkin akan menjadi satu-satunya hal yang harus dikembangkan. Juga pelestarian tidak selalu dikerjakan oleh sebuah lembaga atau kelompok dalam skala kecil. Pelestarian dapat dimulai dari setiap indidvidu yang memiliki rasa kekuatiran terhadap hilangnya salah satu warisan budaya dinegeri kita ini. Bisa jadi itu adalah anda!
----------

Dijelaskannya, dalam arus mordenisasi dan perubahan yang menyertai pembangunan, masyarakat Dayak dihadapkan pada beberapa pilihan sulit seperti apakah mampu mengembangkan jati diri atau tenggelam dan menjadi orang asing di rumah sendiri.

"Karena itu Kebudayaan Dayak berada dipersimpangan jalan, kehilangan identitas, dan mengalami masa transisi," tegasnya.

----------
Namun apakah benar bahwa kebudayaan berada dipersimpangan jalan? Kehilangan identitas? Mengalami masa transisi? Perhatian! Perhatian! Ini harus dikonfirmasi dengan pihak-pihak dari suku dayak tersebut dengan seksama. Karena sebuah kebudayanpun melahirkan aturan-aturan yang tidak mudah untuk ditembus oleh sembarang orang. Apa contoh fenomena yang jelas sehubungan dengan pernyataan dipersimpangan jalan? Atau kehilangan identitas? Atau mengalami masa transisi?

Jika benar, bagaimana jika dibentuk sebuah Dewan Pelestarian didalm suku tersebut. Sehingga kesempatan masyarakat Dayak untuk mengembangkan jati diri pun tidak terhalangi. Merekapun berhak untuk mengikuti arus modernisasi dan perubahan-perubahan yang disertai pembangunan.alasan bahwa masyarakat Dayak dihadapkan pada beberapa pilihan sulit seperti apakah mampu mengembangkan jati diri. Mengapa tidak?
----------

KRATON YOGYAKARTA
Museum Hidup Kebudayaan Jawa dan Tempat Tinggal Raja Jogja

Lonceng Kyai Brajanala berdentang beberapa kali, suaranya tidak hanya memenuhi Regol Keben namun terdengar hingga Siti Hinggil dan Bangsal Pagelaran Kraton Yogyakarta. Sedangkan di Sri Manganti terdengar lantunan tembang dalam Bahasa Jawa Kuna yang didendangkan oleh seorang abdi dalem. Sebuah kitab tua, sesaji, lentera, dan gamelan terhampar di depannya. Beberapa wisatawan mancanegara tampak khusyuk mendengarkan tembang macapat, sesekali mereka terlihat menekan tombol shutter untuk mengambil gambar. Meski tidak tahu arti tembang tersebut, saya turut duduk di deretan depan. Suara tembang jawa yang mengalun pelan bercampur dengan wangi bunga dan asap dupa, menciptakan suasana magi yang melenakan. Di sisi kanan nampak 4 orang abdi dalem lain yang bersiap untuk bergantian nembang. Di luar pendopo, burung-burung berkicau dengan riuh sambil terbang dari pucuk pohon sawo kecik yang banyak tumbuh di kompleks Kraton Yogyakarta kemudian hinggap di atas rerumputan.
Kraton Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat atau yang sekarang lebih dikenal dengan nama Kraton Yogyakarta merupakan pusat dari museum hidup kebudayaan Jawa yang ada di Daerah Istimewa Yogyakarta. Tidak hanya menjadi tempat tinggal raja dan keluarganya semata, Kraton juga menjadi kiblat perkembangan budaya Jawa, sekaligus penjaga nyala kebudayaan tersebut. Di tempat ini wisatawan dapat belajar dan melihat secara langsung bagaimana budaya Jawa terus hidup serta dilestarikan. Kraton Yogyakarta dibangun oleh Pangeran Mangkubumi pada tahun 1755, beberapa bulan setelah penandatanganan Perjanjian Giyanti. Dipilihnya Hutan Beringin sebagai tempat berdirinya kraton dikarenakan tanah tersebut diapit dua sungai sehingga dianggap baik dan terlindung dari kemungkinan banjir. Meski sudah berusia ratusan tahun dan sempat rusak akibat gempa besar pada tahun 1867, bangunan Kraton Yogyakarta tetap berdiri dengan kokoh dan terawat dengan baik.
Mengunjungi Kraton Yogyakarta akan memberikan pengalaman yang berharga sekaligus mengesankan. Kraton yang menjadi pusat dari garis imajiner yang menghubungakn Pantai Parangtritis dan Gunung Merapi ini memiliki 2 loket masuk, yang pertama di Tepas Keprajuritan (depan Alun-alun Utara) dan di Tepas Pariwisata (Regol Keben). Jika masuk dari Tepas Keprajuritan maka wisatawan hanya bisa memasuki Bangsal Pagelaran dan Siti Hinggil serta melihat koleksi beberapa kereta kraton sedangkan jika masuk dari Tepas Pariwisata maka Anda bisa memasuki Kompleks Sri Manganti dan Kedhaton di mana terdapat Bangsal Kencono yang menjadi balairung utama kerajaan. Jarak antara pintu loket pertama dan kedua tidaklah jauh, wisatawan cukup menyusuri Jalan Rotowijayan dengan jalan kaki atau naik becak.
Ada banyak hal yang bisa disaksikan di Kraton Yogyakarta, mulai dari aktivitas abdi dalem yang sedang melakukan tugasnya atau melihat koleksi barang-barang Kraton. Koleksi yang disimpan dalam kotak kaca yang tersebar di berbagai ruangan tersebut mulai dari keramik dan barang pecah belah, senjata, foto, miniatur dan replika, hingga aneka jenis batik beserta deorama proses pembuatannya. Selain itu, wisatawan juga bisa menikmati pertunjukan seni dengan jadwal berbeda-beda setiap harinya. Pertunjukan tersebut mulai dari wayang orang, macapat, wayang golek, wayang kulit, dan tari-tarian. Untuk menikmati pertunjukkan seni wisatawan tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan. Jika datang pada hari selasa wage, Anda bisa menyaksikan lomba jemparingan atau panahan gaya Mataraman di Kemandhungan Kidul. Jemparingan ini dilaksanakan dalam rangka tinggalan dalem Sri Sultan HB X. Keunikan dari jemparingan ini adalah setiap peserta wajib mengenakan busana tradisional Jawa dan memanah dengan posisi duduk.
Usai menikmati pertunjukan macapat, YogYES pun beranjak mengitari kompleks kraton dan masuk ke Museum Batik yang diresmikan oleh Sri Sultan HB X pada tahun 2005. Koleksi museum ini cukup beragam mulai dari aneka kain batik hingga peralatan membatik dari masa HB VIII hingga HB X. Selain itu di museum ini juga disimpan beberapa koleksi hadiah dari sejumlah pengusaha batik di Jogja maupun daerah lain. Saat sedang menikmati koleksi museum, pandangan YogYES tertuju pada salah satu sumur tua yang dibangun oleh Sultan Hamengku Buwono VIII. Di atas sumur yang telah ditutup menggunakan kasa alumunium tersebut terdapat tulisan yang melarang pengunjung memasukkan uang. Penasaran dengan maksud kalimat tersebut YogYES pun mendekat dan melihat ke dalam sumur, ternyata di dasar sumur terdapat kepingan uang logam dan uang kertas yang berhamburan.
Puas berjalan mengitari Kraton Yogyakarta, YogYES pun melangkahkan kaki keluar regol dengan hati riang. Dalam perjalanan menuju tempat parkir, terlihat sebuah papan nama yang menawarkan kelas belajar nembang / macapat, menulis dan membaca huruf jawa, menari klasik, serta belajar mendalang. Rupanya di Kompleks Kraton Yogyakarta ada beberapa tempat kursus atau tempat belajar budaya serta kesenian Jawa. YogYES pun berjanji dalam hati, suatu saat akan kembali untuk belajar mengeja dan menulis huruf hanacaraka maupun belajar menari.

Budaya Jawa

Mlumpat maring: navigasi, goleti
Bupati Purwokerto, karo garwa lan abdine (potret lawas jaman Landa).
Kebudayaan Jawa kuwe kebudayaan sing dianut masyarakat Jawa, sing ngutamakna keseimbangan, keselarasan, lan keserasian, dadi kabeh unsur (urip karo mati, alam karo makhluk urip) kudu harmonis, saling berdampingan, intine kabeh kudu cocog.

Harmoni

Apa-apa sing marakna ora cocog kudu dihindari, angger ana sing bisa ngganggu keseimbangan kuwe kudu cepet digenahna ben kabeh mbalik harmoni maning, mbalik cocog maning.
Umum sing cokan ngganggu keseimbangan kuwe yakuwe polah menungsane, mbuh polah menungsa karo menungsa utawa menungsa karo alam. Angger polah menungsa karo alam, sing nggenahna maning umume dipimpin utawa dadi tanggungjawab pimpinan masyarakat.
Sing angel nang kebudayaan Jawa yakuwe angger keseimbangan kuwe diganggu polah menungsa karo menungsa sing umum nimbulna konflik (harmoni keganggu). Sing jenenge ora cocog utawa ora seneng tuli umum ning merga arep ngindari konflik, umume rasa ora cocog kuwe dipendem.

Kelas Sosial

Nang masyarakat Jawa umume ana golongan-golongan sosiale, misal: golongan Priyayi karo rakyat biasa. Ana maning golongan Santri karo golongan Abangan. Kuwe juga keton sekang basa. Nang basa Jawa ana kelas utawa tingkatan-tingkatan sing bisa nggambarna status sosial penuture.

Tingkatan Sosial Basa Jawa

  1. Ngoko
  2. Ngoko andhap
  3. Madhya
  4. Madhyantara
  5. Kromo
  6. Kromo Inggil
  7. Bagongan
  8. Kedhaton
Loro sing terakhir mung dituturna nang lingkungan keluarga Kraton.

Kejawen

Kejawen yakuwe kepercayaan sing urip nang suku Jawa. Kejawen kiye dasare sekang kepercayaan Animisme sing dipengaruih ajaran Hindu karo Budha. Mulane suku Jawa umum dianggep sebagai suku sing duwe kemampuan nglakoni sinkretisme kepercayaan, kabeh budaya liye diserap lan ditafsirna miturut nilai-nilai Jawa.

Masalah Kebudayaan Indonesia

Kebudayaan Indonesia Saat ini sudah mulai luntur. Contoh Kebudayaan tersebut adalah Baatik, wayang, tari,dll. Padahal Indonesia Memiliki ratusan bahhkan ribuan budaya yang ada di Indonesia.
Orang Indonesia pada zaman sekarang sudah jarang yang menggunakan budaya tersebut. Umumnya mereka tak suka karena hal tersebut kuno dan tidak mengikuti perkembangan sekarang. Remaja sekali pun sudah jarang yang suka budaya Indonesia dan keseniannya .
Banyak Sekali penyebab yang menjadikan orang Indonesia jarang menyukai kebudayaan Indonesia, yang antara lain:
1. Arus Globalisasi:
Masyarakat Indonesia yg sudah terpengaruh globalisasi cenderung meninggalkan kebudayaannya
2. Budaya Barat yang masuk ke Indonesia:
Padahal budaya barat di Indonesia sangat tidak cocok dengan adat istiatadat di Indonesia
3. Kurangnya kesadaran dari Masyarakat Indonesia .
Disini, masyarakat masih kurang sadar terhadap kebudayaan Indonesia sendiri yang sudah mulai luntur
Sementara juga banyak solusi untuk untuk mencengah budaya tersebut agar tidak luntur akibat pengaruh globalisasi:
1 ihak Pemerintah untuk memfilter atau menyaring budaya barat yang masuk ke Indonesia.
2. masyarakat berusaha mengembangkan dan melestarikan budaya tersebut senhingga tidak luntur karena arus moderninsasi
3. Masyarakat Indonesia harus pandai memilih dahn menggunakan budaya Indonesia.
Oleh Karena itu, marilah mulai dari dini kita kembangkan budaya Indonesia supaya tidak luntur oleh modernisasi dan di klaim oleh Negara lain sehingga budaya kita akan pernah berkurang atau luntur.

Masalah Kebudayaan di Indonesia

Indonesia mempunyai berbagai macam kebudayaan. Hampir setiap pulau ditinggali oleh suku dan ras dan tiap-tiap suku dan ras mempunyai kebudayaannya sendiri. Namun seiring berkembangnya zaman, kebudayaan di Indonesia mulai luntur. Hal ini dikarenakan semakin berkembangnya teknologi yang mempunyai dampak negatif terhadap kebudayaan Indonesia. Dengan banyaknya media elektronik kebudayaan barat mulai mengubah pola pikir masyarakat Indonesia. Karena pola pikir masyarakat Indonesia yang masih rendah, mereka dengan mudah mengikuti budaya barat tanpa adanya filtrasi. Sehingga mereka cenderung melupakan kebudayaanya sendiri.


Selain itu, pemerintah terkesan asal- asalan mengurusi budaya. Sehingga dengan mudahnya Negara lain mengakui kebudayaan Indonesia sebagai miliknya. Apabila hal ini terus berlangsung maka kebudayaan Indonesia akan mati.

Budaya global semakin lama telah menggusur budaya lokal Indonesia. Contoh untuk hal ini dapat kita lihat pada masyarakat keraton Indonesia. Dalam dua abad terakhir tata masyarakat kerajaan mulai memudar. Kedudukan bangsawan dikudeta oleh kaum pedagang dengan senjata teknologi dan uang. Legitimasi istana yang bersemboyan kawula gusti kini diinjak-injak oleh semangan individualisme, hak asasi, dan kemanusiaan. Mitos dan agama digeser sekularisme dan rasionalitas. Tata sosial kerajaan digantikan oleh nasionalisme. Akibat runtuhnya kerajaan yang mengayomi seniman-cendekiawan istana, berantakanlah kondisi kerja dan pola produksi seni-budaya istana.

Kesenian dan kebudayaan merupakan dua sisi mata uang yang tidak terpisahkan. Kesenian dapat menjadi wadah untuk mempertahankan identitas budaya Indonesia. Faktanya, sekarang ini identitas budaya Indonesia sudah mulai memudar karena arus global. Sehingga kondisi yang mengkhawatirkan ini perlu segera diselamatkan. Hal ini semakin diperparah dengan diakuinya budaya indonesia oleh bangsa lain. Masalah yang sedang marak baru-baru ini adalah diakuinya lagu daerah “Rasa Sayang-sayange” yang berasal dari Maluku, serta “Reog Ponorogo” dari Jawa Timur oleh Malaysia. Hal ini disebabkan oleh kurang pedulinya bangsa indonesia terhadap budayanya. Namun ketika kebudayaan itu diakui oleh bangsa lain, indonesia bingung. Berita terbaru menyebutkan bahwa kesenian “angklung” dari Jawa Barat juga mau dipatenkan oleh negara tersebut. Lalu dimanakah peran masyarakat dan pemerintah dalam hal ini?
Kebudayaan nasional adalah kebudayan kita bersama yakni kebudayaan yang mempunyai makna bagi kita bangsa indonesia. Kalau bukan kita lalu siapa lagi yang akan menjaga dan meletarikannya. Seharusnya sebagai warga negara indonesia patut bangga dengan mempunyai kekayaan budaya. Hal ini sebenarnya akan menimbulkan rasa tanggung jawab untuk melestarikan kebudayaan tersebut. Sebagai warga negara kita hendaknya menanggapi dengan arif pengaruh nilai-nilai budaya barat untuk mengembangkan dan memperkaya, serta meningkatkan kebudayaan nasional dengan cara menyaring kebudayaan itu. Hal ini dapat dilakukan dengan cara mengambil nilai yang baik dan meninggalkan nilai yang tidak sesuai dengan kebudayaan kita.

Begitu juga halnya dengan pemerintah, pemerintah harus tegas dalam menjaga dan melestarikan kebudayaan indonesia dengan cara membuat peraturan perundangan yang bertujuan untuk melindungi budaya bangsa. Dan jika perlu pemerintah harus mematenkan budaya-budaya yang ada di Indonesia agar budaya-budaya bangsa tidak jatuh ke tangan bangsa lain. Pemerintah harus membangun sumber daya manusia dan meningkatkanan daya saing bangsa dapat dilakukan dengan menanamkan norma dan nilai luhur budaya Indonesia sejak dini, dengan cara sosialisasi nilai budaya yang ditanamkan kepada anak sejak usia prasekolah. Hal ini ditujukan untuk mengangkat kembali identitas bangsa Indonesia.

5 Kebudayaan Indonesia yang ‘Mulai’ Hilang


Kita sebagai orang Indonesia yang berbudi luhur pasti tahu dengan budaya yang akan dibahas ini, tapi belakangan kita bisa melihat, merasakan (bahkan mungkin mengalami) udah mulai berkurang. Jadi, kami coba angkat deh, supaya Anda mau mengembalikan budaya kita, menjadi budaya sesungguhnya!
1. Cium Tangan Pada Orang Tua

Biasanya sih dibilang “salim“, bila di semasa saya hal ini merupakan kewajiban anak kepada orang tua disaat ingin pergi ke sekolah atau berpamitan ke tempat lain. Sebenarnya hal ini penting loh, selain menanamkan rasa cinta kita sama ortu, cium tangan itu sebagai tanda hormat dan terima kasih kita sama mereka, sudahkah kalian mencium tangan orang tua hari ini?
2. Penggunaan tangan kanan

Bila di luar negeri sih, saya rasa gak masalah dengan penggunaan tangan baik kanan ataupun kiri, tapi hal ini bukanlah budaya kita. Budaya kita mengajarkan untuk berjabat tangan, memberikan barang, ataupun makan menggunakan tangan kanan.  (kecuali memang di anugerahi kebiasaan kidal sejak lahir).
3. Senyum dan Sapa

Ini sih Indonesia banget! Dulu citra bangsa kita identik dengan ramah tamah dan murah senyum. So, jangan sampai hilang, ya! Ga ada ruginya juga kita ngelakuin hal ini, toh juga bermanfaat bagi kita sendiri. Karena senyum itu ibadah dan sapa itu menambah keakraban dengan sekitar kita.
4. Musyawarah

Satu lagi budaya yang udah jarang ditemuin khususnya di kota-kota besar semisal Jakarta. Kebanyakan penduduk di kota besar hanya mementingkan egonya masing-masing, pamer inilah itulah, mau jadi pemimpin kelompok ini itu dan bahkan suka main hakim sendiri. Tapi coba kita melihat desa-desa yang masih menggunakan budaya ini mereka hidup tentram dan saling percaya, ga ada yang namanya saling sikut dan menjatuhkan, semua perbedaan di usahakan secara musyawarah dan mufakat. Jadi sebaiknya Anda yang ‘masih’ merasa muda harus melestarikan budaya ini demi keberlangsungan negara Indonesia yang tentram dan cinta damai.
Dan budaya yang terakhir,..
5. Gotong Royong

Itu bukan urusan gue!“, “emang gue pikiran“, Whats up bro? Ada apa dengan kalian? Hayoolah kita sebagai generasi muda mulai menimbulkan lagi rasa simpati dengan membantu seksama, karena dengan kebiasaann seperti inilah bangsa kita bisa merdeka saat masa penjajahan, ga ada tuh perasaan curiga, dan dulu persatuan kita kuat.